Selamat Datang di Website Pusat Pelatihan Pertanian

Pandemi Virus Corona, Kabadan PPSDMP Ajak Milenial Kawal Pangan Lokal


Di Publish Pada : 22/04/2020 | Kategori : Berita | views : 767

Jakarta, Jurnas.com -  Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDM), Dedi Nursyamsi mengapresiasi maraknya startup-startup pangan yang bermunculan di tengah masa penganan virus corona (COVID-19).

"Ini satu hal yang sangat menggembirakan. Peluang untuk menyediakan pangan atau mendukung ketersediaan pangan nasional saat ini melalui startup. Dan ini banyak dilakukan oleh pengusaha muda yang memang sudah lama eksis," ujar Dedi kepada Jurnas.com, Rabu (22/4).

Dedi menyampaikan akan terus mendorong lahirnya para petani milenial yang berbasis startup. Pasalnya, dengan startup produksi, distribusi dan pemasaran pangan akan lebih mudah dan lancar.

"Sebagai contoh, untuk distribusi ini sudah banyak dari petani milenial. Mereka bangun beberapa aplikasi, ada Ayomart, Pasmart dan mart-mart lainnya. Ini luar biasa, dengan aplikasi mereka menjaring berbagai pesanan dari konsumen kemudian dihubungkan ke para produsen," jelas Dedi.

"Mereka juga (Mart, Red) bekerja di hulu, kerja juga diproduksi sampai mendistribusikan. Ada kerjasama dengan para tukang Ojek, Gojek, Grab dan lain sebagainya," sambungnya.

Karena itu, Dedi mengungkapkan sangat menyambut baik dan akan mendorong agar startup milenial lahir di mana-mana,  bukan hanya di Jawa, tapi juga di luar Jawa.

Dedi juga menyampaikan bahwa saat ini peluang para petani milenial masih terbukan lebar untuk menggenjot produksi pangan lokal di saat sejumlah negara melakukan preventif karena pandami COVID-19.

"Hingga saat ini, kita termasuk importir gandum terbesar, baik dari Amerika Serikat (AS) maupun China. Sementara AS dan China sekarang sudah mulai proteksi terhadap produksinya," katanya.

Karena itu, Dedi meminta para milenial untuk mulai menggenjot pangan lokal. "Ada singkong, ubi-ubian, ganyong, lobak. Itu yang harus kita genjot, ganti itu gandum. Setop makan gandum, kita ganti dengan pangan lokal," katanya.

Gandum itu kan tanaman subtropis, kita negara tropis. Negara tropis sumber karbohidratnya apa? Ya singkong, ubi-ubian, itu yang harus kita konsumsi.

"Nah, sekarang karena impor gandum susah, pangan lokal kita genjot. Hulu kita genjot produktivitasnya. Kalau kita genjot produktivitas tentu kita juga harus genjot olahannya," tambahanya.

Dedi mengatakan, sudah ada petani milenial yang sudah mampu membuat mokab (tepung berasal dari singkong), ternyata rasa dan harganya tidak kalah dengan terigu. "Banyak lagi peluang lain yang perlu kita genjot dan dorong bersama," ujar Dedi.

"Alhamdulillah sudah kelihatan di Makassar, di Medan, di kota besar yang lain juga sudah mulai bermunculan. Kita harus mulai dorong terus agar mereka muncul dan berkontribusi di dalam penyediaan pangan nasional," katanya.

Kontak Kami


Pengunjung Hari Ini 64
Total Pengunjung 52,532